CRITICAL REVIEW JURNAL ILMIAH “MEMBANGUN SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA YANG KOLEKTIF LEWAT MEDIA TRADISIONAL”
TUGAS MATA KULIAH SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA
CRITICAL REVIEW JURNAL ILMIAH
“MEMBANGUN SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA YANG KOLEKTIF LEWAT MEDIA TRADISIONAL”
Dosen Pengampu :
Kheyene Molekandella Boer,M.Ikom
Reviewer :
Rani Berliana
2102056103
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
TAHUN 2021/2022
1. A. Merangkum (menyatakan Kembali)
Abstrak
Saat ini perkembangan komunikasi Indonesia diramaikan dengan kuatnya pengaruh media digital yang nyatanya mengantarkan sistem komunikasi Indonesia menjadi lebih terbuka, banyak hal positif yang dapat perolah namun tak sedikit hal negatif pun berdampak pada pola perilaku komunikasi masyarakat di tanah air. Artikel ini akan mengungkap media tradisional di tanah air yang merupakan media kolektivis masyarakat Indonesia. Artikel ini akan menyajikan gambaran media tradisional dibeberapa wilayah di Jawa Timur dengan metode penulisan deskriptif, mencoba memaparkan data hasil observasi dan wawancara kemudian penulis jelaskan dengan menyandingkan konsep Sistem Komunikasi Indonesia.
Latar Belakang
Peristiwa pembubaran yang diduga dilakukan banser NU terhadap Takbliq Akbar di masjid shalahuddin, Gedangan Sidoarjo Jawa Timur merupakan peristiwa yang membelalakan mata umat muslim, hampir media sosial ramai dengan ungkapan yang menyesalkan peristiwa tersebut. Ustad Khalid Basalamah sebagai pengisi acara saat itu digiring kembali kekendaraannya, pembatalan ceramah yang dihadiri kurang lebih 2000 jemaah ini ditengarai kekawatiran NU bahwa isi ceramah yang akan disampaikan Ustad Khalid berisi pesan yang memprovokasi. Tidak hanya pembubaran ceramah yang baru saja terjadi, ditahun 2016 peristiwa yang sama pun meramaikan pemberitaan TV Nasional Tanah air, pembuburan ritual Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di gedung budaya Sabuga Bandung. Pembuburan ini dilakukan oleh Ormas Pembela Ahlus Sunnah (PAS), dengan indikasi belum ada izin yang jelas terhadap acara kebaktian rohani di Sabuga.
Dalam konteks komunikasi, pembubaran sendiri dapat dikatakan perilaku simbolik bermakna negatif yang mengarah pada tindakan orang atau kelompok tertentu secara sepihak. Dua contoh peristiwa di atas merupakan gambaran bergesernya nilai-nilai budaya kolektiv dalam masyarakat kita. Penulis berpendapat bahwa kalimat pembubaran identik dengan aktivitas amoral. jika kita kaitkan dengan dua aktivitas diatas tentu kegiatan tersebut bukanlah kegiatan amoral, ceramah agama yang belum berlangsung bahkan ustad belum juga menyampaikan materi ceramah tentu tidak bisa dikatakan memprovokasi, serta ritual Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) digedung budaya Sabuga tidak dibenarkan pula dibubarkan hanya karena motivasi dugaan belum ada izin.
Dalam sistem komunikasi kita mengenal tahapan masyarakat di Indonesia yaitu tradisional, kolektivis, dan individualis (Nurudin 2004: 21) . Pada tahapan tradisional masyarakat Indonesia masih menggunakan media tradisional ditandai dengan aktivitas seni dan budaya seperti wayang, kentongan, ludruk dll. Media tradisional ini tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh masyarakat kita masih banyak aktivitas tradisional tersebut dapat dijumpai dibeberapa daerah di tanah air. Media tradisional memungkinkan masyarakat mengakses secara bersama sama atau kolektif. Seiring berjalannya waktu masyarakat kita aktif menggunakan media digital. Jika merujuk pada makna tersebut artinya masyarakat Indonesia sudah dapat dikatakan pada masyarakat modern dengan penggunaan teknologi dan informasi, lewat penggunaan smart phone yang intensif masyarakat Indonesia sudah bisa mengakses informasi sebanyak mungkin dan hampir tak terbatas. Berkembangnya teknologi khususnya pada aplikasi media sosial berbasis chating entah disadari atau tidak nampaknya telah menghantarkan masyarakat Indonesia pada sikap berlebihan.
Salah satu kegiatan komunikasi kolektif adalah penggunaan media tradisional, media tradisional adalah cerminan luhur Bangsa Indonesia yang berkarakter gotong royong. Ditengah era digital nyatanya masih ada beberapa wilayah di Jawa Timur yang mempertahankan budaya kolektif dalam berkomunikasi kelompok atau bermasyarakat yaitu eksitensi sistem komunikasi kolektif lewat media tradisional.
Sistem Komunikasi Tradisional
Media tradisional tumbuh dan berkembang menjadi media masyarakat, ciri dari media masyarakat adalah komunikasi dengan melibatkan pertemuan fisik, atau komunikasi antarpersonal. Hal ini dikarenakan masyarakat belum sepenuhnya perecaya menggunakan media digital dan media massa. Media masyarakat adalah media yang memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh informasi, pendidikan, bila mereka menginginkan kesempatan itu. Selanjutnya yaitu media masyarakat adalah sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bukan untuk menyatakan sesuatu kepada masyarakat. Lewat definisi dari media rakyat ini dapat dijelaskan fungsi dari media rakyat itu sendiri yaitu sebagai media yang memberikan alternatif sebagai sarana untuk rakyat mengemukakan kepentinngannya. Media rakyat ini juga berfungsi sebagai penyeimbang pemihakan kepada perkotaan yang tercermin dalam isi media.
Media rakyat ini memegang prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat pedesaan. Artinya media tersebut menjadikan kebutuhan informasi masyarakat sebagai hal yang utama. Sudah lama masyarakat pedesaan menggunakan media rakyat, baik media tradisional maupun media cetak, diawal tahun 1980 pemerintah telah melaksanakan koran masuk desa . Kendati koran masuk desa merupakan program pemerintah namun nyatanya dapat menjadi media rakyat yang efektif. Ketika berbicara mengenai media tradisional dan kearifan lokal bangsa serta sistem komunikasi yang kolektif maka tidak bisa dilepaskan dari seni tradisional, karena lewat seni tradisional lah bentuk komunikasi kolektif bermula. Jika media massa artinya media yang menggunakan teknologi -terlepas teknologi yang sederhana atau kompleks- maka media tradisional menurut James Danandjaja merupakan alat komunikasi yang sudah lama digunakan disuatu tempat sebelum kebudayaan tersentuh oleh teknologi modern dan sampai sekarang masih digunakan di daerah itu.
Media dan Seni Tradisional
Media tradisional tentu saja hasil dari menggali cerita-cerita rakyat kegiatan ini sering disebut folklor ada banyak bentuk folklor yaitu mite , legenda, dongeng yang merupakan cerita prosa rakyat. Kemudian hadirlah puisi rakyat, nyanyian rakyat, teater rakyat, gerak isyarat, alat pengingat, alat bunyi-bunyian dan masih banyak lagi yang sampai sekarang masih digunakan masyarakat kita. Jika ditinjau dari aktualisasinya banyak sekali praktek-praktek seni yang mengantarkan pada tujuan komunikasi kolektif diantaranya wayang purwa, wayang golek, ludruk, ketoprak seni-seni ini memakai peralatan atau media tradisional, kendati sudah masuk pada era digital seni tradisional ini tidak sepenuhnya ditinggalkan masyarakat terutama masyarakat pedesaan, di masyarakat pedesaan seni tradisional ini masih memegang fungsi media komunikasi kolektif prakteknya masih menggunakan peralatan tradisional. Seni tradisional ini telah bertransformasi mengikuti perkembangan jaman seni tradisional menyesuaikan dengan media massa modern. Artinya seni tradisional tidak lagi dimunculkan dengan bentuk yang apa adanya, melainkan telah memanfaatkan media televisi, radio, dan media interaktif atau internet.
Komunikasi Kolektif Lewat Media Folklor
Media tradisional sangat memungkinkan terjadinya komunikasi yang kolektif, dalam pengoprasian media tersebut saja tidak bisa dilakukan oleh satu orang, dengan karakternya yang menghasilkan bunyi-bunyian atau cerita dan gambar yang sarat akan cerita rakyat memberikan efek proksimiti bagi masyarakat itu sendiri. Dengan media tradisional proyeksi harapan masyarakat bisa di diperkuat sebagai alat pendidikan, sebut saja salah satunya adalah folklor. Ada banyak sekali folklor di Indonesia seperti Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Emas, Batu Bela Batu Betangkup atau Nyi Roro Kidul.
Semua folklor ini bukan cerita sebenarnya, hanya saja dalam cerita dongeng ini terselip angan-angan seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun diperlakukan buruk. Atau angan-angan orang tua yang mengharapkan seorang anak berbakti namun diinginkan oleh raksasa yang jahat. Kelebihan folklor sebagai media tradisional dibanding media lain adalah media ini akan tumbuh dan berkembang dimasyarakat karena diwariskan turun temurun. Folklor menjadi sarana komunikasi kolektif karena ceritanya yang menyentuh hati masyarakat. Media folklor hampir bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dengan jenjang pendidikan yang tidak perlu dibedakan. Pesan dalam folklor sifatnya lebih menghibur sehingga masyarakat lebih mudah menerima kandungan hikmah didalamnya, selain itu lebih mudah mempengaruhi sikap masyarakat.
Membangun Komunikasi Kolektif lewat Media Tradisional di Jawa Timur
Eksistensi media tradisional masih terjaga di Jawa Timur yaitu didaerah pedesaan, salah satunya di Dusun Durbug, Desa Batangan, Tanah Merah Bangkalan, Madura. Berikut ini adalah beberapa daerah di Jawa Timur yang masih mempertahankan media tradisional dalam kehidupan sehari-hari :
1. Desa Batangan
Kentongan: jika dikota kita sudah jarang meraskan fungsi kentongan tidak di Desa Batangan ini, masyarakat masih bergantung pada kentongan untuk memberitahukan keadaan darurat, untuk tanda berkumpul dan untuk petunjuk waktu.
Tok Otok: merupakan media tradisional untuk merauk keuntungan/ mendapatkan kembali apa yang telah diberikan kepada semua orang yang telah diundang,seperti sesuatu dibalik amplop (selembar uang) yang jumlahnya dapat untuk mengganti bahan pokok yang telah terpakai untuk hajatan,ada pula yang menggantinya dengan beras,gula, dan telur. Pemberian itu semua tidak hanya diterima begitu saja melainkan dicatat di dalam buku pribadi yang nantinya akan menjadi hutang bagi pemilik hajatan kepada orang yang diundang. Sehingga pemilik hajatan harus membayar sama seperti apa yang diperolehnya. Perayaan ini biasa terjadi pada saat dilangsungkannya acara pertunangan,pernikahan dan khitanan .
2. 2. Dusun Jegles Kelurahan Blabak Kota Kediri
Di Dusun Jegles Kelurahan Blabak menggunakan musyawarah sebagai media komunikasi sangat mereka jaga dan rutin dilakukan. Mereka menganggap musyawarah masih sangat efektif hingga saat ini. Biasanya musyawarah diadakan para pengurus RT untuk membicarakan kegiatan apa yang harus dilakukan dan sebagai evaluasi kegiatan. Selanjutnya ialah festival brantas. Fesival ini selalu dilakukan setahun sekali untuk memperingati hari ulang tahun Kota Kediri, festifal ini selalu dipadati oleh ribuan masyarakat kendati mereka hanya menjadi penonton. Pada festival ini ada acara tabur benih, yang menaburkan benih-benih ikan ke sungai berantas. Tentu tujuannya adalah memberikan pelajaran pada generasi muda bagaimana cara hidup yang ramah lingkungan, tak hanya mengambil hasil sungai tetapi juga menjaga ekosistem sungai. Dalam kegiatan tabur benih masyarakat berpartisipasi untuk membersihkan pinggiran sungai dan masyarakat pun antusias dalam kegiatan membersihkan sungai. Sebagai simbol mereka bersyukur kepada sang Pencipta bahwa mereka dapat melaksanakan perintah-Nya.
3. 3. Jelidro Indah, Kec. Sambikerep, Kel. Sambikerep, Surabaya Barat
Gong alat musik khas Jawa, tetapi hanya digunakan sebagai pertanda kepergian atau meninggalnya seseorang. Pada mulanya, ada salah satu warga yang meninggal dunia, dan beberapa warga lain disekitarnya kebinggugan untuk memberitahukan kepada warga lainnya mengenai peristiwa tersebut, kemudian salah satu warga berinisiatif menggunakan Gong yang ada dirumahnya dan dipukulkannya sambil keliling ke rumah warga yang ada. Jika lazimnya meninggalkan salah seorang warga kita sering mendengar pengumumannya lewat alat pengeras suara di masjid, tapi tidak di Jelidro Indah Surabaya Barat.
Inilah sejumlah kecil masyarakat Jawa Timur yang masih menggunakan media tradisional sebagai sarana berkomunikasi. Komunikasi berfungsi untuk menghubungkan masyarakat dalam menanggapi lingkungan, media tradisional dapat menjembatani fungsi komunikasi tersebut karena dilakukan lewat komunikasi antapersonal, tetua kampung, atau pemuka pendapat yang menghadirkan suasana kolektif ditengah hadirnya media digital yang cenderung mengantarkan pada sifat individualis dan egois.
Kesimpulan
Ada banyak cara yang dapat kita lakukan dalam membangun komunikasi mengantarkan kembali pada karakter masyarakat Indonesia yang kolektif. Sistem masyarakat yang kolektifis ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari komunikasi. media-media tradisional yang sifatnya menghibur nyatanya bisa efektif menyampaikan pesan-pesan luhur budaya, pendidikan dan pembangunan. Selanjutnya media tradisional masih sangat efektif digunakan untuk membangun pola komunikasi yang kolektivis, bersama dan bergotong royong sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Tentu dari artikel ini penulis memberi saran hendaknya pemerintah mengapresiasi tiap kelompok masyarakat yang memertahankan media tradisional sebagai media kolektivis dan kearifan lokal bangsa.
2. B. Menganalisis (menggali informasi tersirat)
Berdasarkan rangkuman yang telah dipaparkan, saya menggali informasi tersirat yang ada didalam rangkuman sebagai berikut.
2. Media tradisional sangat memungkinkan terjadinya komunikasi yang kolektif.
3. Media Tradisional memiliki nilai yang terkandung dalam implementasi Pancasila
4. Di Jawa Timur masih banyak daerah yang mempertahankan dan melestarikan media tradisional dalam kehidupan sehari-hari.
5. Media masyarakat adalah sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bukan untuk menyatakan sesuatu kepada masyarakat.
3. C.Mensistesiskan (menghubungkan apa yang telah dirangkum dan dianalisis dengan pengetahuan penulis)
1. Media digital membuat banyak masyarakat tidak melakukan komunikasi secara kolektif sehingga yang ada hanya ada individualis yang dapat menyebabkan dampak negative bagi masyarakat. Media digital membuat banyak masyarakat perlahan meninggalkan budaya yang sejak luhur telah tertanam dalam budaya masyarakat Indonesia. Munculnya informasi digital yang tidak sesuai dengan fakta (hoax) yang tidak sesuai dengan fakta atau kebenaran yang dikenal dengan istilah hoax merupakan dampak negatif di era digital, hal tersebut terjadi karena rendahnya literasi informasi digital masyarakat. Penyebaran hoax dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, dengan memutarbalikkan fakta tertentu hingga membuat kegaduhan publik. Maka dari itu, untuk menghindari hoax, masyarakat harus dibiasakan untuk memilah informasi tersebut dari berbagai sumber digital yang jelas dan terpercaya.
Selanjutnya adanya budaya malas gerak (mager) karena pengaruh penggunaan teknologi digital. Salah satu dampak negatif yang dirasakan adalah adanya budaya malas gerak (mager) yang terjadi karena pengaruh penggunaan teknologi digital. Di era digital yang semakin canggih, masyarakat tidak pernah lepas dari alat teknologi digital seperti gadget. Berbagai platform digital yang sudah tersedia di dalam sebuah gadget, membuat penggunaannya merasa kecanduaan tanpa memperhatikan waktu dan kesehatan. Oleh karena itu perlu komitmen dari pengguna teknologi digital untuk membagi waktu dalam menggunakan teknologi digital dan melakukan aktivitas yang bergerak.
Kemudian Adanya penipuan digital yang mengatasnamakan orang lain. Penipuan digital terjadi karena adanya penyalahgunaan data pribadi yang dilakukan oleh oknum dengan kecanggihan teknologi digital. Biasanya korban tersebut disebut dengan istilah korban cybercrime. Modus penipuan digital beragam, ada yang mengatasnamakan dengan survei untuk mendapatkan data pribadi, penjualan produk dari harga diskon yang besar website e-commerce yang tidak resmi, dan sebagainya. Agar tidak terjadinya korban penipuan digital, jangan pernah sembarangan untuk memberikan data pribadi ke orang lain.
2. Media tradisional sangat memungkinkan terjadinya komunikasi yang kolektif. Misalnya Folklor dapat menjadi alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota kolektifnya, dimana masyarakat pada saat itu mampu menanamkan nilai dan pesan moral melalui kajian seperti cerita rakyat, dongeng dan pewayangan atau ketoprak. Pesan dalam folklor sifatnya lebih menghibur sehingga masyarakat lebih mudah menerima kandungan hikma didalamnya, selain itu lebih mudah mempengaruhi sikap masyarakat. Bahkan beberapa folklor dijadikan filosofi atau panutan hidup seseorang seni folklor dapat dinikmati dengan ringan tanpa harus berpikir keras.
3. Media
Tradisional memiliki nilai yang terkandung dalam implementasi Pancasila.
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa
Berdasarkan
temuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti tradisi mengandung nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa. Perwujudan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu Percaya
dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu berdoa, perilaku ikhlas, perilaku
jujur, dan nilai mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara
pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan
TAP MPR No.I/MPR/2003. Nilai ketaqwaan pada tradisi festival brantas diwujudkan
dengan berdoa. Panjatan doa ditujukan
kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perilaku
Ikhlas pada tradisi festival diwujudkan ketika, hal ini digolongkan kedalam dua
hal, yaitu keikhlasan dalam memberikan beras dan keikhlasan melaksanakan
tanggungjawab sebagai masyarakat yang bercocok tanam. Keikhlasan memberikan
beras merupakan keikhlasan yang dijalankan warga.
4. Di Jawa Timur masih banyak daerah yang mempertahankan dan melestarikan media tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang kita ketahu di jurnal bahwa daerah-daerah seperti Dusun Durbug, Desa Batangan, Tanah Merah Bangkalan, Madura, Kediri dan daerah lainnya.
5. Media masyarakat adalah sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bukan untuk menyatakan sesuatu kepada masyarakat. Berdasarkan hal ini masyarakat lebih menekankan untuk memberikan berupa pesan moral, anjuran, memberikan pertimbangan sert nasehat di bandingkan seperti yang kita sering lihat di media digital seperti media social, dimana antar masyarakat selalu adu pendapat dan saling menomentari satu sama lain.
3. D. Mengevaluasi (menilai)
Kelebihan Jurnal
· Terdapat kesesuaian antara tujuan jurnal dan kesimpulan yang didapatkan
· Jurnal ini berhasil untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang betapa dalamnya hubungan politik dengan pendidikan itu sendiri.
· Pembahasan pada jurnal ini dibuat secara singkat dan padat sehingga pemahaman kepada jurnal ini akan lebih berbobot dan mudah.
Kekurangan Jurnal
· Kelemahan yang ada pada penelitian ini yaitu tingkat responnya yang masih rendah.
· Jurnal ini tidak dilakukan pengamatan secara langsung
Daftar Pustaka
Mulyana, Deddy dan Solatun. 2008. Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-contoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. PT. Remaja Rosdakarya . Bandung
Nimmo, Dan. 2000. Komunikasi Politik. Bandung :PT Remaja Rosdakarya
Nurudin. 2007. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Purwasito, Andrik.2015. Komunikasi Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komentar
Posting Komentar